Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Pertumbuhan Bawang Merah


TUGAS
 APLIKASI KOMPUTER
 
“Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Pertumbuhan
Bawang Merah”
 
 
 

 
 
 
Disusun Oleh:
 
 
Nama       : Adelia Retno Wulandari
NIM          : 180321100134
Kelas       : C
 
 
 
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN
2018


KATA PENGANTAR

 
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya dan tidak lupa solawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW  sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Pertumbuhan Bawang Merah “ ini. Tidak lupa saya ucapkan tereimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah Aplikasi Komputer yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan tugas makalah ini .
Makalah ini saya susun berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari media elektronik dan pembelajaran selama perkuliahan dengan harapan orang yang membaca dapat memahami “Pengaruh Pemberian Pupuk terhadap Pertumbuhan Bawang Merah”.
Akhirnya saya menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna .Oleh karena itu , saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan penerbitan saya  ini di masa mendatang .
 
Bangkalan, 22 Oktober 2018
 
Penulis






I.             PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

 
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat, baik dilihat dari nilai ekonomisnya yang tinggi, maupun dari kandungan gizinya. Dalam dekade terakhir ini permintaan akan bawang merah untuk konsumsi dan untuk bibit dalam negeri mengalami peningkatan, sehingga Indonesia harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan tersebut . Untuk mengurangi volume impor, peningkatan produksi dan mutu hasil bawang merah harus senantiasa ditingkatkan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Di Indonesia tanaman bawang merah telah lama diusahakan oleh petani sebagai usaha tani komersial. Meskipun demikian, adanya permintaan dan kebutuhan bawang merah yang terus meningkat setiap tahunnya belum dapat diikuti oleh peningkatan produksinya. Sinaga, Simanungkalit, & Hasanah (2016)
Menurut Badan Pengendali BIMAS Departemen Pertanian (1997), dalam 10 ton kompos sampah kota mengandung 45 kg N, 30 kg P2O5, 50 kg K2O. .Hasil penelitian Elviati (1998), menunjukkan bahwa pemberian kompos sampah kota sebanyak 25 ton/ha telah memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis. Selain itu pupuk kimia juga berperan dalam meningkatkan produktivitas bawang merah. Salah satu pupuk kimia yang digunakan untuk memaksimalkan produksi adalah pupuk K. Kalium berperan dalam proses metabolisme seperti fotosintesis, respirasi, kofaktor enzim, regulasi stomata, translokasi gula pada pembentuk pati dan protein, meningkatkan ketahanan tanama terhadap serangan hama dan penyakit, memperkuat tubuh tanaman supaya daun,bunga dan buah tidak mudah rontok. Kekurangan kalium menyebabkanumbi kecil sehingga produksi menurun. Sinaga et al (2016)


1.2 Rumusan Masalah

·         Pengaruh pemberian pupuk kandang, pupuk kompos kota, pupuk K dan pupuk hayati sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bawang merah.

2.2 Tujuan

·         Mengetahui pengaruh  pemberian pupuk kandang, pupuk kompos kota, pupuk K dan pupuk hayati sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bawang merah


I. PEMBAHASAN

2.1 Bawang Merah

Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman hortikultura yang semakin mendapat perhatian baik dari masyarakat maupun pemerintah. Selama beberapa tahun terakhir ini, bawang merah termasuk enam besar komoditas sayuran yang diekspor bersama- sama dengan kubis, blunkol (kubis bunga), cabai, tomat, dan kentang. Bahkan bawang merah ini tidak hanya diekspor dalam bentuk sayuran segar, tetapi juga setelah diolah menjadi produk bawang goreng. Latarang & Syakur (2006)
Bawang merah (Allium ascalonicum L) merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang banyak dikonsumsi manusia sebagai campuran bumbu masak setelah cabe. Selain sebagai campuran bumbu masak, bawang merah juga dijual dalam bentuk olahan seperti ekstrak bawang merah, bubuk, minyak atsiri, bawang goreng bahkan sebagai bahan obat untuk menurunkan kadar kolesterol, gula darah, mencegah penggumpalan darah, menurunkan tekanan darah serta memperlancar aliran darah. Sebagai komoditas hortikultura yang banyak dikonsumsi masyarakat, potensi pengembangan bawang merah masih terbuka lebar tidak saja untuk kebutuhan dalam negeri tetapi juga luar negeri. Irfan (2013)
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat, baik dilihat dari nilai ekonomisnya yang tinggi, maupun dari kandungan gizinya. Dalam dekade terakhir ini permintaan akan bawang merah untuk konsumsi dan untuk bibit dalam negeri mengalami peningkatan, sehingga Indonesia harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk mengurangi volume impor, peningkatan produksi dan mutu hasil bawang merah harus senantiasa ditingkatkan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Tambunan, Sipayung, & Sitepu (2014)


 

2.2 Bahan dan Metode

Penelitian ini dilaksanakan di desa Guntarano, Kecamatan Tawaeli, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah, dimulai bulan Oktober - Desember 2004. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih bawang merah varietas lokal Palu, pupuk kandang ayam, pupuk urea, SP36, dan KCl sebagai pupuk dasar. Sedangkan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bajak, cangkul, sekop, sabit, garuh, papan merek, tali, timbangan, gembor, alat ukur, dan alat tulis-menulis. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan pengamatan komponen tumbuh yang meliputi : jumlah daun, dan jumlah anakan pada saat tanaman berumur 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam (MST). Adapun komponen hasil meliputi : jumlah umbi dan berat umbi basah (g) per rumpun, serta hasil perhektar (ton). Latarang & Syakur (2006)
Penelitian ini menggunakan metode air menetes keluar polibag. Penyiangan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan 2 faktor perlakuan yaitu Faktor pertama yaitu Pemberian media tanam (M) dengan 4 taraf : ultisol : pasir (2:1), kascing : pasir (2:1), ultisol : kascing : pasir (2:1:1), ultisol : kascing : pasir (2:2:1). Faktor kedua yaitu pemberian pupuk hayati (K) dengan 3 taraf 0.05 gr/tanaman, 0.1 gr/tanaman, 0,15 gr/tanaman. Jumlah ulangan sebanyak 3 ulangan. Tambunan et al. (2014)
Pelaksanaaan penelitian meliputi persiapan lahan, persiapan bibit,penanaman, aplikasi kompos sampah kota, aplikasi pupuk K, pemeliharaan tanaman, panen dan pengeringan. Parameter yang diamati panjang tanaman, jumlah daun per rumpun dan diameter umbi kering. Data dianalisis dengan sidik ragam, sidik ragam yang nyata dilanjutkan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf α = 5 %. Sinaga et al (2016)



                            Gambar 1. 1 Bawang Merah


2.3 Hasil

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur bobot eskyp. Hasil uji BNJ (Tabel 5) menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang 25 ton/ha menghasilkan umbi per hektar lebih berat dan berbeda nyata dengan perlakuan 0, 5, dan 10 ton/ha, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 15 dan 20 ton/ha.
Dosis Pupuk Kandang (ton/ha)
Jumlah Umbi
0
5,33
5
5,6
10
5,7
15
6,3
20
6,5
25
6,53
 
Tabel 1.1 Rata-Rata Jumlah Umbi per Rumpun
 

2.4  Pembahasan

Pahan (2008) mengatakan bahwa strategi pemupukan tanaman yang baik harus mengacu pada konsep efektifitas dan efisiensi yang maksimum meliputi: jenis pupuk, waktu dan frekwensi pemupukan serta cara penempatan pupuk. Jenis pupuk akan memberikan informasi kandungan utama unsure hara, kandungan hara tambahan, reaksi kimia pupuk dalam tanah serta kepekaan pupuk terhadap iklim. Pada penentuan waktu dan frekuensi pemupukan dipengaruhi oleh iklim, sifat fisik tanah maupun adanya sifat sinergis dan antagonis antar unsur hara. Cara penempatan pupuk akan mempengaruhi jumlah pupuk yang tersedia bagi tanaman. Pemberian urea dengan cara pembenaman dalam tanah akan mengurangkan kehilangan urea sebesar 20% dari dosis pupuk yang diberikan. Irfan (2013)
 
 
 
 


PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemberian pupuk kandang berpengaruh sangat nyata terhadap semua komponen pertumbuhan dan komponen hasil yang diamati. Pemberian berbagai unsur hara (makro-mikro), vitamin, protein dan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diberikan dengan dosis anjuran maupun dosis triple pada system budidaya bawang merah dalam keadaan optimal tidak dapat memperbesar diameter umbi, panjang umbi, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi per rumpun serta berat basah tanaman. Perlunya penerapan kondisi optimal budidaya bawang merah di lahan gambut yang masih belum banyak digunakan di daerah Riau sebagai lahan pertanian yang potensial. Kompos sampah kota tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah amatan. Pemberian pupuk K 75 kg KCl/ha merupakan dosis yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang merah.

3.2 Saran

                Untuk mendapatkan hasil pertumbuhan bawang merah yang maksimal hendaknya mempertahankan memberikan pupuk kandang, pupuk kompos kota, pupuk K dan pupuk hayati.


DAFTAR PUSTAKA


 

Irfan, M. (2013). Respon Bawang Merah ( Allium ascalonicum L) terhadap zat pengatur tumbuh dan unsur hara. Jurnal Agroteknologi, 3(2), 35–40.

Latarang, B., & Syakur, A. (2006). PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum L.) PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK KANDANG. J. Agroland, 13(3), 265–269.

Sinaga, S. F., Simanungkalit, T., & Hasanah, Y. (2016). Respons Pertumbuhan Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Kompos Sampah Kota dan Pupuk K. Jurnal Agroteknologi, 4(3), 2181–2187.

Tambunan, W. A., Sipayung, R., & Sitepu, F. E. (2014). Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dengan Pemberian Pupuk Hayati pada Berbagai Media Tanam. Jurnal Online Agroekoteknologi, 2(2), 825–836. https://doi.org/10.14710/ik.ijms.20.2.87-100

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FFSalad (Fresh Fruit Salad)